KUNINGAN ONLINE – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Yayasan Cancer Support Kuningan (YCSK) bersama Yayasan Cahaya Sedekah Kebaikan. Berawal dari kunjungan rutin ke desa-desa, bantuan yang awalnya tidak direncanakan justru berujung pada pembangunan rumah layak huni bagi seorang lansia di Desa Karangbaru.
Ketua YCSK, Sari Maryati, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut bermula dari kebiasaannya turun langsung ke lapangan untuk mencari warga yang membutuhkan bantuan.
“Awalnya tidak sengaja. Saya memang sering turun ke desa-desa, lalu menanyakan apakah ada lansia yang membutuhkan bantuan sesuai kriteria kami,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Saat berada di Desa Karangbaru, pihak desa kemudian menunjukkan seorang lansia yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Tanpa menunggu lama, Sari langsung melakukan survei ke lokasi.
“Saat saya datang, saya sangat terenyuh. Rumahnya sudah tidak layak, lantainya tanah, banyak barang berserakan, bahkan saya sampai berpikir ada ular di dalamnya,” ungkapnya.
Meski awalnya tidak memberikan janji pasti, Sari mengaku tergerak untuk membantu.
“Saya hanya bilang ke Abah, insya Allah akan saya bangunkan rumah. Tunggu saja,” katanya.
Keraguan sempat muncul dari pihak desa, mengingat bantuan tersebut datang dari seseorang yang sebelumnya belum dikenal. Namun, melalui dukungan para donatur, pembangunan rumah akhirnya bisa direalisasikan.
“Alhamdulillah, tidak sampai satu bulan rumah Abah sudah dibangun. Dari kondisi sebelumnya yang benar-benar tidak layak, sekarang perubahannya bisa dibilang 180 derajat,” jelasnya.
Pembangunan rumah tersebut dimulai pada 4 April dan dilakukan dari nol, dengan merobohkan bangunan lama dan menggantinya dengan rumah baru yang lebih layak.
Dua Yayasan dengan Fokus Berbeda
Sari menjelaskan, YCSK awalnya fokus pada pendampingan pasien kanker. Namun, tingginya permintaan bantuan sosial di luar kanker mendorongnya mendirikan Yayasan Cahaya Sedekah Kebaikan.
“Yang satu fokus ke kanker, sedangkan yang satunya untuk lansia, dhuafa, yatim, dan kebutuhan sosial lainnya,” terangnya.
Sejak berdiri sekitar tahun 2020, YCSK telah membantu ribuan pasien kanker, bahkan merambah ke penyakit lain seperti hidrosefalus, jantung, hingga paru-paru.
“Pasien kanker di Kuningan itu bukan banyak lagi, tapi sudah ribuan yang kami data dan bantu,” katanya.
Berawal dari Pengalaman Pribadi
Motivasi Sari dalam mendirikan yayasan tidak lepas dari pengalaman pribadinya sebagai penyintas kanker sejak usia 20-an.
“Saya berjuang sendiri saat itu, mulai dari pengobatan hingga biaya. Dari situ saya ingin membantu orang lain agar tidak merasakan hal yang sama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengobatan kanker membutuhkan biaya besar dan proses panjang, bahkan bisa menguras seluruh aset keluarga jika tidak ditangani dengan baik.
Tantangan di Lapangan
Dalam menjalankan misi sosialnya, Sari mengaku sering menghadapi penolakan, terutama saat awal turun ke desa.
“Banyak yang curiga, dikira mau minta uang. Bahkan ada yang tidak percaya dengan niat kami,” ujarnya.
Namun seiring waktu, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh setelah melihat langsung hasil kerja yayasan.
Akses Pengobatan dan Peran Yayasan
Sari menjelaskan, pengobatan kanker sebenarnya ditanggung BPJS. Namun, kendala utama bagi masyarakat kurang mampu adalah biaya transportasi menuju rumah sakit rujukan seperti Bandung atau Jakarta.
“Bagi masyarakat pelosok, ongkos Rp150 ribu saja untuk sekali berobat itu sangat berat,” katanya.
Di sinilah peran yayasan hadir untuk membantu meringankan beban tersebut.
Ajak Masyarakat Berkolaborasi
Bagi masyarakat yang ingin mengajukan bantuan, Sari menyebut dapat menghubungi yayasan melalui media sosial atau kontak yang tersedia. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tetap melakukan seleksi berdasarkan kriteria.
“Kami mohon maaf jika responnya tidak selalu cepat, karena keterbatasan tim dan banyaknya permintaan bantuan,” pungkasnya. (OM)






