KUNINGAN ONLINE – Pemerintah melalui pelaksanaan vakisnasi Covid-19 di Indonesia belum merata dilaksanakan, bahkan di daerah Madura itu penolakan warganya luar biasa.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Nihayatul Wafiroh usai menghadiri kegiatan Sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bersama BPJS Kesehatan Cabang Cirebon, di Gedung IPHI Kabupaten Kuningan, Rabu (20/10).
“Ya selain vaksinasi belum merata, sebenernya stok vaksin menjadi PR yang luar biasa. Ada masalah distribusi dibeberapa tempat juga masalah kesadaran masyarakat,” ujar Ninik sapaan akrabnya.
Politisi Perempuan asal Dapil Jawa Timur III mencontohkan, di daerah Madura. Stok vaksinnya banyak, tapi masyakarat menolak vaksinya luar biasa.
Selain itu, lanjutnya, vaksin Covid-19 itu didistribusikan dari Pusat ke Provinsi, kemudian dari Provinsi ke daerah.
“Kalau untuk pulau Jawa distribusinya seharusnya paling lancar, karena Jawa ini haru benar-benar digenjot vaksinasinya,” ujarnya.
Ninik menyebutkan bahwa kasus Covid-19 sekarang yang menjadi perhatian itu pelaksanaan vaksinasi. Sehingga saat masyarakat sudah mendapat vaksin Covid-19 ini tidak sangat berbahaya untuk kesehatan.
“Untuk skala nasional pelaksanaan vaksinasi tahap pertama itu sekitar 53 persen dan untuk tahap kedua ini baru, sekitar 35 persen. Dan Kuningan, untuk tahap kedua vaksinasi itu baru 27 persenan,” sebutnya.
Ninik juga meminta kepada semua lapisan masyarakat, jangan takut saat mendapat kuota vaksin Covid-19.
“Ya, kepada teman – teman media saya minta sosialisasikan agar warga masyarakat mau di vaksin. Terkait dengan jenis vakis sinovac atau atrazeneca itu sama saja,” imbuhnya.
Kaitan dengan artis yang menjadi sorotan pemerintah, Ninik mengungkapkan bahwa Rachel Vennya itu kasusnya bukan soal sudah atau belum di vaksin. Namun, kasus artis perempuan itu mengenai kabur saat melakukan karantina.
“Oh, untuk Rachel Vennya itu bukan soal vaksin. Jadi begini, artis itu kan dari luar negeri dan saat masuk Indonesia, harus menjalani karantina terlebih dahulu. Hari ketiga hingga delapan saat karantina itu bisa dilakukan swab tes atau PCR,” pungkasnya. (OM)









