Teater Lingkaran Mengenang W. S Rendra dan Tampilkan Musikalisasi Puisi

KUNINGAN ONLINE – W.S Rendra
Rendra terkenal sebagai penyair dan dramawan terkemuka di Indonesia sejak tahun 1950-an. Rendra juga mendapat julukan sebagai “Si Burung Merak” karena penampilannya sebagai deklamator selalu penuh pesona.

Saat mengenang sosok W.S Rendra, Teater Lingkaran Kabupaten Kuningan menyelenggarakan kegiatan Mengenang W.S Rendra dengan tema “Sepak Terjang dan Pemikirannya”.

Iklan

Kegiatan yang diselenggarakan, Senin (7/11/2022) bertempat di Lembaga Penyiaran Publik Lokal LPPL Kabupaten Kuningan Jl. Aruji Kertawinata, Kuningan, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan.

Menurut Ketua Teater Lingkaran, Endro Setiana menyampaikan kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Pertama, Bincang W.S Rendra dengan tajuk “Sepak Terjang dan Pemikirannya” Bersama 3 Sastrawan yaitu Pandu Hamzah sebagai narasumber pertama, Candrika Adhiyasa Sebagai narasumber kedua dan Saefudin Muhamad sebagai moderator.

Iklan
Iklan

“Sesi Kedua, Apresiasi Puisi Karya W.S Rendra yang diisi oleh Teater Lingkaran, Ersya Nurul Ihza, Agung M. Abul (Tudgam Kuningan, Kuningan Biennale),” ujarnya.

Bertanya tentang siapakah dan bagaimanakah W.S Rendra,
Pertanyaan itu sungguh mengandung daya ganggu yang kuat sehingga pihaknya pun selama waktu perencanaan acara begitu didominasi oleh rasa penasaran yang hebat.

“Juga seakan alam mengarahkan kita untuk melabuhkan rasa penasaran kita kepada orang-orang yang direstuinya. Awal kita memiliki tajuk “Membaca W.S Rendra” dan itu juga kami masih merasa kurang tepat dan kurang mewakili untuk diangkat menjadi tajuk kegiatan,” terangnya.

Menurutnya, seiring waktu dan gerak alam melalui pertemuan kami dengan Pandu Hamzah yang difasilitasi oleh Agung M Abul Tudgam Kuningan, Kuningan Biennale akhirnya tajuk pertama kami yang mengusung “Membaca W.S Rendra”, menjadi lebih konkrit dan lugas yaitu “Sepak Terjang Dan Pemikiran W.S Rendra” terimakasih Pak Pandu Hamzah.

“Rendra adalah satu jembatan bagaimana kita dapat memetik sisi aspek dalam dirinya baik itu dalam pergerakan, pertentangan, prinsip, keindahan, kemegahan, kesetiaan juga spritual. Sungguh banyak sekali yang dapat kita petik dari sosok beliau,” tuturnya.

Endo menceritakan, bahwa Penyair, dramawan dan sutradara, Budayawan, pendiri Bengkel Teater yang dijuluki “Si Burung Merak” ini lahir pada tanggal 7 November 1935 di solo dan berpulang pada tanggal 6 Agustus 2009 di RS Mitra Depok, Jawa Barat.

W.S rendra merupakan putra dari pasangan dari R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Chatharina Asmadillah. Inisial W.S Rendra Willibrordus Surendra Berubah Menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah menjadi seorang muslim.

Berbicara tentang sepak terjang W.S Rendra, kedua narasumber pada acara bincang kali ini menyampaikan perjalanan Rendra dimulai dari kehidupan rendra dari masa kecil, hobi, studi, pergerakan, pertentangan, kemudian prestasi, penghargaan hingga menjadi salah satu sosok yang berpengaruh pada era-nya.

Kemudian tentang “Pemikiran W.S Rendra “, Kedua narasumber menyampaikan serata mengupas tentang idealisme, kekritisan berpikir, kepekaan batin,Kesetiaan, Spriritual W.S Rendra jang terhambar pada karya-karya W.S Rendra denhan berbagai sudut.

Diskusi kali ini sungguh bernutrisi sekali serta banyak sekali yang kita petik dari Sosok dan Pokok W.S Rendra yang begitu menginspirasi. Pada kesempatan kali ini kami mengutip kalimat penting dari dari kedua narasumber yaitu :
Pandu Hamzah ” W.S Rendra adalah seoarang yang setia pada hati nurani, Berkesenian haruslah berguna untuk semua lapisan masyarakat, sampaikanlah aspirasi dalam bentuk karya yang estetik, jangan takut, Menulislah dengan merdeka karna sastra dilindungi”.

Candrika Adhiyasa ” Analisa, Observasi dan pengetahuan kita akan berpengaruh untuk proses kita menulis kemudian belajar bisa pada sosok siapa saja namun tetaplah jadi diri sendiri”
Terimamasih Pak Pandu Hamzah, Kang Candrika Adhiyasa.

Setalah usai Bincang-Bincang kemudian beranjak ke sesi kedua yaitu “Apresiasi Puisi Karya W.S Rendra” Dengan Penampil pertama yaitu Teater.

Teater Lingkaran dengan menampilkan dua musikalisasi puisi berjudul “Rakyat Adalah Sumber Kedaultan, Aku Mendengar Suara”, kemudian satu penampilan berjudul Kesaksian Akhir Abad yang disajikan oleh Ipal, Nur Muhamad Ilyas, Rafly, Muhamad Rifki, Maman, Endro, Isye Novianti, Rani, Tia, Zahra.

Kemudian dilanjut oleh penampil yang kedua yaitu sajian musikalisasi puisi berjudul “Pamflet Cinta” oleh Ersya Nurul Ihza dan Endro Setiana.

Kemudian yang berikutnya sajian musikalisasi puisi oleh Agung M Abul berjudul ” Lagu Angin” dan “Kangen”.

Seru sekali mengapresiasi itu banyak ilmu, pengetahuan, wawasan juga pengalaman baru untuk kita semua.

Selanjutnya kami ucapkan terimakasih kepada LPPL Kuningan, Tudgam Kuningan, Kuningan, Teater Sado Dapur Sastra, BUKUSAM ( Budak Kuningan Sadar Maca), Saung Bagus Daya, Padjajaran Cimande Kuningan, Karang Taruna IPMA, Kuningan Online, Para narasumber, para penampil dan para pendukung dari berbagai lintas komunitas yang turut serta mensukseskan kegiatan ini semoga kita semua senantiasa diberikan Keridhoan, Keberkahan, Kesehatan, Keselamatan, kelancatan dan kemudahan dalam segala bentuk aktifitas dan ikhtiar. Aamiin. (OM)