Ratusan Relawan Dikerahkan, Cigugur Perketat Kesiapsiagaan Karhutla di Kawasan Gunung Ciremai

Budaya, Insiden782 views

KUNINGAN ONLINE – Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ciremai. Tidak hanya mengandalkan pemerintah dan aparat, upaya pencegahan juga melibatkan ratusan relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok pencinta alam hingga pengelola objek wisata.

Penguatan kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan Apel Siaga Bencana Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla tingkat Kecamatan Cigugur yang digelar di Bumi Perkemahan Palutungan, Desa Cisantana, Senin (7/9/2026).

Iklan

Apel dipimpin Camat Cigugur Yono Rahmansah dan diikuti unsur Forkopimcam, pemerintah desa, Linmas, Bhabinkamtibmas, Babinsa, BPBD Kabupaten Kuningan, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), MPA, relawan serta pengelola sejumlah objek wisata di kawasan Palutungan dan sekitarnya.

Usai apel, jajaran Forkopimcam bersama unsur terkait mengecek kesiapan sarana dan prasarana pemadaman. Salah satu peralatan yang diuji yakni mesin penyedot air yang terhubung dengan selang penyemprot bertekanan dan memiliki jangkauan puluhan meter.

Iklan

Peralatan tersebut kemudian digunakan dalam simulasi pemadaman. Mesin menyedot air dari sumber di sekitar Bumi Perkemahan Palutungan, kemudian mengalirkannya melalui selang menuju titik api yang sengaja dibuat sebagai bagian dari simulasi.

Semburan air bertekanan mampu menjangkau titik api dan memadamkan kobaran dalam waktu singkat. Simulasi ini sekaligus memastikan peralatan dan personel siap bergerak apabila terjadi kebakaran di kawasan rawan.

Camat Cigugur Yono Rahmansah, S.STP., M.H., mengatakan apel siaga merupakan bagian dari upaya membangun sistem penanganan karhutla yang melibatkan seluruh komponen.

Menurutnya, potensi kebakaran di Cigugur tidak dapat ditangani oleh satu instansi saja karena wilayah tersebut bersinggungan langsung dengan kawasan Gunung Ciremai serta sejumlah objek wisata alam.

“Penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak bisa hanya oleh satu komponen saja, tapi harus semua komponen. Maka kita semua bersinergi bergerak bersama untuk membentuk satu kesatuan, membentuk tim yang solid untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kecamatan Cigugur,” ujarnya.

Yono juga menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui sosialisasi kepada masyarakat. Warga diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan dan segera menangani sumber api sekecil apa pun agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Pencegahan itu lebih murah biayanya daripada penanganan,” katanya.

Kapolsek Cigugur AKP Kuswa menilai kesiapsiagaan tersebut penting mengingat kondisi kawasan Gunung Ciremai yang rawan terdampak kebakaran ketika lingkungan memasuki kondisi kering.

Menurutnya, apel menjadi bentuk keseriusan lintas sektor dalam melakukan pencegahan sebelum terjadi kejadian.

“Jangan sampai nanti kita baru bergerak setelah terjadi. Ini tentunya kerja sama dan kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintahan kecamatan, BPBD, TNGC, komponen masyarakat, masyarakat pencinta alam, pengelola wisata dan masyarakat lain yang peduli terhadap lingkungan, utamanya di wilayah Gunung Ciremai,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Danramil Cigugur Kapten Arh Suroso. Menurutnya, apel siaga menjadi bagian dari upaya pencegahan dini sekaligus memperkuat koordinasi antara unsur kewilayahan dan masyarakat dalam melakukan pengawasan kawasan rawan kebakaran.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana, S.STP., melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kuningan Iman Nuryadi mengatakan, apel siaga menjadi momentum untuk memperkuat edukasi pencegahan kepada masyarakat sekaligus memastikan kesiapan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dikedepankan sehingga penanganan tidak dilakukan ketika api sudah terlanjur meluas.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Tony Anwar, S.Hut., M.T., melalui Kasi SPTN Wilayah I Kuningan BTNGC, Eko Kosasih, turut mengapresiasi pelaksanaan apel tersebut.

Eko menegaskan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah dan Taman Nasional Gunung Ciremai.

“Untuk karhutla penyelesaiannya tidak hanya sendiri, tapi diselesaikan bersama-sama. Ini merupakan upaya bersama dalam rangka pengendalian dan juga pencegahan karhutla,” ujarnya.

Kesiapsiagaan di Kecamatan Cigugur semakin kuat dengan keterlibatan ratusan relawan yang berasal dari berbagai unsur masyarakat. Di antaranya MPA KTH Palutungan Bangkit Jaya yang tergabung dalam MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, kelompok masyarakat pencinta alam, relawan serta para pengelola objek wisata.

Keterlibatan relawan dinilai penting karena kawasan Palutungan merupakan salah satu tujuan wisata alam yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya diarahkan untuk melindungi kawasan hutan, tetapi juga memastikan keamanan pengunjung serta keberlangsungan aktivitas wisata ketika risiko kebakaran meningkat pada puncak musim kemarau.

Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif, S.Hut., mengatakan pihaknya mendukung penuh langkah pemerintah dan seluruh instansi dalam memperkuat pencegahan karhutla di Cigugur maupun wilayah lain di sekitar kawasan TNGC.

Menurut Nandar, relawan masyarakat memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan lingkungan sehingga dapat membantu melakukan pemantauan dan memberikan respons awal ketika muncul indikasi kebakaran.

“Kami dari MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning siap mendukung tugas pemerintah maupun seluruh instansi dalam menjaga kawasan Cigugur dan kecamatan lainnya di sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai. Pencegahan harus dilakukan bersama, karena ketika api sudah membesar penanganannya jauh lebih sulit,” katanya.

Sinergi lintas sektor yang terbangun melalui apel siaga tersebut menunjukkan bahwa upaya perlindungan kawasan Ciremai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat. Masyarakat, relawan, MPA serta pengelola wisata juga menjadi bagian penting dalam sistem pencegahan dan penanggulangan karhutla.

Dengan keterlibatan ratusan relawan dan dukungan seluruh unsur terkait, kewaspadaan diharapkan dapat terus dijaga sepanjang musim kemarau, terutama di kawasan hutan dan objek wisata yang memiliki tingkat aktivitas masyarakat cukup tinggi. (OM)