Padjadjaran Cimande Kuningan Raih 16 Medali di KKCC 2026, Bukti Generasi Muda Masih Cinta Tradisi

KUNINGAN ONLINE – Di tengah derasnya arus modernisasi dan penggunaan gawai yang semakin lekat dengan kehidupan anak-anak, semangat melestarikan budaya lokal justru ditunjukkan puluhan pesilat muda Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan.

Sebanyak 16 atlet Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan tampil dalam ajang Kesultanan Kanoman Cirebon Championship (KKCC) 2026 yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di GOR Bima, Kota Cirebon.

Iklan

Hasilnya membanggakan. Ke-16 atlet tersebut berhasil membawa pulang 16 medali, terdiri dari 9 medali emas, 5 medali perak, dan 2 medali perunggu.

Prestasi tersebut bukan hanya menjadi catatan dalam kompetisi pencak silat, tetapi juga menjadi bukti bahwa seni bela diri tradisional seperti Cimande masih memiliki tempat di tengah generasi muda.

Iklan

Cimande Bukan Sekadar Olahraga

Bagi Padjadjaran Cimande, pencak silat tidak sekadar olahraga atau aktivitas untuk mengejar prestasi. Di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya dan karakter yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal itu terlihat dari antusiasme para atlet yang mayoritas masih berusia anak-anak hingga remaja. Mereka memilih berlatih kuda-kuda dan jurus-jurus pencak silat di padepokan, di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan dunia digital.

“Mereka datang berlatih bukan karena dipaksa. Mereka datang karena cinta. Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari anak-anak usia dini. Ini adalah sinyal kuat bahwa Cimande tetap hidup dan dicintai,” ujar Coach Syifa Hayati didampingi Sri Prihatini.

Keikutsertaan dalam KKCC 2026 menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus upaya pelestarian pencak silat Cimande.

Melalui kompetisi, para atlet tidak hanya diasah kemampuan teknisnya, tetapi juga dididik untuk memahami nilai keberanian, kehormatan, sportivitas dan kerendahan hati.

16 Atlet, 16 Medali

Berikut daftar atlet Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan yang berhasil meraih medali pada KKCC 2026:

  1. Fahriza Arif Rahman – Usia Dini 1 (5–8 tahun), Men – E – Emas
  2. Alifah Az Zaida Supriatno – Usia Dini 1 (5–8 tahun), Women – Under B – Perak
  3. Nisrina Kamila – Usia Dini 1 (5–8 tahun), Women – N – Perak
  4. Citra Puspita Ayu – Usia Dini 2 (8–11 tahun), Women – B – Emas
  5. Kheana Rhea Farzana – Usia Dini 2 Putri (8–11 tahun), Women – C – Emas
  6. Alesha Najma F – Usia Dini 2 Putri (8–11 tahun), Women – D – Emas
  7. Pricilia Caroline Deandra H – Usia Dini 2 Putri (8–11 tahun), Women – D – Emas
  8. Adzkia Hasna Naima – Usia Dini 2 Putri (8–11 tahun), Women – J – Emas
  9. Anyelir Aina Hafsa – Usia Dini 2 (8–11 tahun), Women – D – Perunggu
  10. Rizki Ramadan – Usia Dini 2 (8–11 tahun), Men – J – Perunggu
  11. Ali Mufid Hamizan Supriatno – Usia Dini 2 (8–11 tahun), Men – Under A – Perak
  12. Fina Nurahmadani – Usia Dini 2 Putri (8–11 tahun), Women – L – Perak
  13. Keyna Rahma Tika Wijaya – Pra Remaja (11–14 tahun), Women – C – Perak
  14. Amara Putry Humaerany – Pra Remaja (11–14 tahun), Women – C – Emas
  15. Dicky Ali Fahrurozi – Remaja (14–17 tahun), Men – E – Emas
  16. Denisa Adila Ardani – Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Emas

Prestasi Lahir dari Pembinaan

Ketua Padjadjaran Cimande, Dedi Hendriana, menegaskan keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan.

Di balik setiap pertandingan dan medali yang diraih, terdapat proses pembinaan yang melibatkan pelatih, orang tua, pengurus dan sekolah.

Ekosistem pembinaan tersebut menjadi penting karena sebagian atlet tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi. Namun, mereka tetap mendapatkan ruang untuk mengenal budaya dan tradisi melalui latihan pencak silat.

Sementara itu, Binpres Agus Suryaman didampingi official Algy mengatakan pihaknya tidak bermaksud menjauhkan anak-anak dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, mereka ingin mengenalkan pengalaman positif lain yang dapat diperoleh melalui olahraga dan kebersamaan.

“Kami tidak melarang anak-anak menggunakan gawai. Tapi kami ajak mereka merasakan kebahagiaan yang lain—kebahagiaan dari keringat, kebersamaan, dan kebanggaan. Itu yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel,” ujarnya.

Target Pembinaan Lebih Masif

Pasca-kejuaraan KKCC 2026, Padjadjaran Cimande tidak ingin berhenti pada capaian medali.

Sejumlah agenda pembinaan ke depan disiapkan, di antaranya memperkuat program pembinaan usia dini, meningkatkan kualitas pelatih, membangun kolaborasi dengan sekolah agar pencak silat dapat berkembang sebagai kegiatan ekstrakurikuler unggulan, serta mempersiapkan atlet menghadapi berbagai kejuaraan berikutnya.

Bagi Padjadjaran Cimande, prestasi merupakan salah satu cara untuk menjaga tradisi tetap hidup.

Ketika para pesilat muda Kuningan memasuki gelanggang, mereka tidak hanya membawa nama perguruan dan daerah. Mereka juga membawa warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Di tengah era digital, Cimande membuktikan bahwa tradisi tidak harus menjadi sesuatu yang tertinggal. Dengan regenerasi yang kuat, budaya lokal justru dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.

Dari padepokan menuju gelanggang, dari jurus menjadi prestasi, Padjadjaran Cimande Kuningan terus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tangan generasi muda. (OM)