Gen Z Rentan Terpapar Radikalisme Digital, Diskominfo Kuningan Perkuat Literasi dan Wawasan Kebangsaan

Pendidikan, Sosial109 views

KUNINGAN ONLINE – Derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Di tengah kemudahan akses informasi melalui media sosial, generasi Z (Gen Z) dinilai rentan terpapar berbagai konten menyesatkan, termasuk paham radikalisme dan anarkisme.

Hal tersebut mengemuka dalam Diklat Kebangsaan yang diselenggarakan Gerakan Masyarakat Anti Radikalisme (GEMAR) Kabupaten Kuningan di Pondok Pesantren Daarul Mukhlishin, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta dari kalangan santri, pelajar, dan mahasiswa itu menghadirkan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd., sebagai salah satu narasumber.

Iklan

Dalam pemaparannya, Nana mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi memiliki dua sisi yang harus disikapi secara bijak. Selain memberikan berbagai kemudahan, ruang digital juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda dan merekrut pengikut yang mengarah pada paham radikal.

“Literasi digital tidak hanya soal mampu menggunakan perangkat teknologi atau aktif di media sosial. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak, etis, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Iklan

Menurut Nana, radikalisme merupakan paham yang menginginkan perubahan secara ekstrem dan instan, bahkan sering kali membenarkan penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengancam persatuan, toleransi, dan keutuhan bangsa.

Ia menjelaskan, penguatan literasi digital dapat dilakukan melalui empat pilar utama, yaitu Digital Skills (Kecakapan Digital), Digital Culture (Budaya Digital), Digital Ethics (Etika Digital), dan Digital Safety (Keamanan Digital). Keempat aspek tersebut dinilai penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun propaganda di dunia maya.

Selain literasi digital, Nana juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Empat pilar kebangsaan ini menjadi kompas moral dan ideologis dalam menyikapi berbagai informasi di ruang digital. Ketika generasi muda memahami nilai Pancasila, menjunjung persatuan, menghargai keberagaman, dan taat pada konstitusi, maka mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh narasi kebencian dan ajakan radikalisme,” katanya.

Nana mengungkapkan, Gen Z menjadi salah satu kelompok yang kerap menjadi sasaran penyebaran paham radikal karena berada pada fase pencarian jati diri. Kondisi tersebut diperparah oleh algoritma media sosial yang dapat menciptakan fenomena echo chamber atau ruang gema.

Menurutnya, ketika seseorang terus berinteraksi dengan satu jenis konten tertentu, algoritma akan menyajikan konten serupa secara berulang sehingga mempersempit sudut pandang dan memperkuat keyakinan yang belum tentu benar.

Ia juga mengingatkan peserta agar waspada terhadap ciri-ciri narasi radikal di media sosial, seperti ujaran kebencian, klaim kebenaran tunggal, penolakan terhadap keberagaman, penggunaan bahasa provokatif, hingga penyebaran teori konspirasi tanpa dasar yang jelas.

“Konten seperti ini sekarang dikemas secara modern melalui video pendek, meme, maupun potongan ceramah yang dipenggal dari konteks aslinya. Hoaks sering dijadikan pintu masuk untuk memengaruhi cara berpikir dan emosi pengguna media sosial,” jelasnya.

Karena itu, Nana menilai upaya pemblokiran konten oleh pemerintah tidak cukup jika tidak dibarengi dengan penguatan daya tahan digital (digital resilience) masyarakat, khususnya generasi muda. Ia mendorong pelajar dan mahasiswa untuk menjadi produsen konten positif yang menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, kreativitas, dan optimisme.

“Jadilah generasi yang kritis dalam berpikir, bijak dalam bermedia sosial, dan kokoh dalam menjaga Persatuan Indonesia,” pesannya.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber Dr. H. Fenny Rahman, HS., M.Pd., dan Bambang Priatna, S.Kom. Acara dibuka secara resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Helayati, S.Sos.

Sementara itu, Ketua GEMAR Kabupaten Kuningan, KH. Yayat Hidayat, S.Ag., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital, mulai dari penyebaran hoaks, judi online, pinjaman online ilegal, hingga paham radikalisme.

Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan dan literasi digital menjadi langkah penting untuk membentengi generasi muda agar mampu menghadapi berbagai ancaman di ruang digital secara cerdas dan bertanggung jawab. (OM)