KUNINGAN ONLINE – Tepat empat tahun silam, 27 Juni 2018 merupakan hari pencoblosan Pemilihan umum Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) periode 2018-2023. Demikian disampaikan oleh Tim Simpul Relawan Rindu Jabar Juara dan Fokja Relawan Rindu, Amin Nurdin.
“Tak terasa roda kepemimpinan Ridwan Kamil (RK) sebagai Gubernur Jawa Barat akan memasuki tahun terakhir dan bagaimanakah hasil kepemimpinannya dalam mewujudkan Jabar Juara Lahir dan Batin,” tanya Amin dalam keterangan tertulis, Selasa (28/6).
Menurutnya, apa yang pernah di bahas dan terdokumentasikan dalam Tim Optimasi dan Sinkronisasi (TOS) jauh panggang dari api, kebanyakan hanya narasi saja.
Malahan, Amin mengatakan, program yang tak tertuang menjadi program, semisal petani milenial. Maka wajar saja pelaksanaannya banyak menyisakan masalah, baik dari segi penganggaran atau pelaksanaan karena tidak terencana dari awal.
“Malahan lebih implementatif program petani milenial yang dari kementerian Pertanian dan Provinsi lain, di bandingkan Jawa Barat,” kata Amin.
Selain itu, Amin menegaskan, program magrib mengaji pun hanya sekedar launching saja. Sejak dilaunching di akhir tahun 2018, tidak ada tindak lanjut bagaimana pelaksanaan program tersebut hingga saat ini.
“Padahal sudah tertuang dalam dokumen TOS dan masuk program prioritas serta saat kampanye selalu didengungkan ditiap pesantren. Sangat amat disayangkan,” tegasnya.
Amin juga menyampaikan bahwa sejak bulan lalu, dirinya sudah membuat polling online untuk mengukur tingkat kepuasan relawan Rindu Jabar Juara terhadap kinerja Gubernur Jabar.
“Bagi relawan yang belum mengisi bisa mengisi di link berikut ini https://bit.ly/PollingKepuasanRelawanRK
Insya Allah hasil polling ini akan kita sampaikan di awal September nanti, tepat pada saat pelantikan dan satu tahun terkahir Gubernur Jabar,” ujarnya.
“Itu adalah bebarapa contoh program Gubenur yang tidak jelas. Insya Allah dalam waktu dekat kita akan melakukan diskusi khusus mengenai “Nasib Jawa Barat Kini dan Esok” dengan menghadirkan ahli di bidangnya, baik dalam Reformasi birokrasi, program pembangunan dan lain sebagainya,” sambungnya.
Dan tak lupa dalam momentum 4 tahun ini, dirinya mendokan bagi beberapa relawan yang sudah meninggalkan dunia lebih dahulu.
“Semoga amal kebaikannya bermanfaat dan dicatat sebagai amal soleh serta segala khilaf dan salahnya diampuni Allah SWT,” ucapnya.
Sementara Koordinator Relawan Rindu Jabar Juara Kabupaten Kuningan, Asep Papay menambahkan, program yang diluncurkan Gubernur Jabar semuanya hanya framing dan sangat kental pencitraan, tidak berdampak terhadap seluruh masyarakat Jawa Barat.
“Terlebih ada beberapa penanganan tapi dititik titik pencitraan saja, gugur kewajiban tidak berdaya ungkit mensejahterakan dan apalagi berkesinambungan,” tambah Papay sapaan akrabnya.
Kemudian Ketua Korda Relawan Rindu Jabar Juara Kota Cimahi, Dani Supriatna menyampaikan kekecewaannya. Dirinya beserta rekan-rekannya pernah diminta Ijazah, CV dan lainnya oleh Tim Gubernur untuk persyaratan administrasi menjadi pendamping salah satu program provinsi.
Namun hasilnya sangat mengecewakan, karena tidak ada seorangpun yang dilibatkan dalam program tersebut. Malahan orang yang bukan domisili Kota Cimahi yang menjadi pendampingnya.
“Kita kecewa bukan karena kita tidak masuk, namun kenapa mesti orang luar kota Cimahi yang bertugas nya, apakah tidak ada warga Cimahi yang mumpuni?!,” pungkasnya. (OM)









