Dukung Program KDM Jaga Lingkungan, MPA Silihwangi Majakuning Perkuat Pasukan dan Peralatan Pemadaman Sejak Dini

Insiden, Sosial49 views

KUNINGAN ONLINE — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ciremai meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering membuat masyarakat di desa-desa penyangga kawasan Ciremai, baik di Kabupaten Kuningan maupun Majalengka, memperkuat kesiapsiagaan.

Tak ingin hanya menjadi penonton ketika kebakaran terjadi, masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning terus meningkatkan kemampuan dan kesiapan peralatan pemadaman.

Iklan

Langkah tersebut salah satunya dilakukan melalui pelatihan penggunaan peralatan pemadaman yang digelar di sekitar Objek Wisata Batuluhur, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Rabu (2/9/2026).

Sekitar 100 anggota MPA mengikuti pelatihan bersama jajaran Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Kuningan. Mereka tidak hanya dibekali kemampuan menggunakan peralatan pemadaman, tetapi juga dilatih membangun pola kerja tim saat menghadapi titik api di kawasan hutan.

Iklan

Dalam pelatihan tersebut, anggota MPA dikenalkan dengan pembagian tugas dalam kru pemadaman, mulai dari nozzleman, helper hingga operator. Komunikasi antaranggota, penggunaan alat komunikasi serta aba-aba di lapangan juga menjadi bagian dari materi latihan.

Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan memiliki posisi strategis dalam mendukung upaya pencegahan karhutla.

Pasalnya, warga menjadi pihak yang relatif paling cepat mengetahui apabila terdapat kepulan asap maupun titik api di sekitar wilayah mereka.

“Ketika ada titik api, mereka yang paling awal tahu. Karena itu sejak 2021 kami selalu ikut mengantisipasi karhutla, aktif mendukung patroli TNGC, dan merawat sekat bakar,” kata Nandar.

Menurut Nandar, keterbatasan sarana pada awal pembentukan MPA justru mendorong masyarakat untuk bergerak secara swadaya. Pengalaman menghadapi kebakaran dengan peralatan manual menjadi modal bagi warga untuk terus mengembangkan sarana pemadaman yang lebih efektif.

Saat ini, paguyuban telah memiliki sejumlah peralatan pendukung, mulai dari penyemprot punggung atau water jet shooter, kendaraan pengangkut air hingga kendaraan khusus untuk membawa peralatan pemadaman ke lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar.

Iklan

Dengan dukungan peralatan tersebut, tim dapat membawa selang pemadam menuju kawasan hutan yang memiliki sumber air seperti embung maupun tempat penampungan air.

“Harapan kami kebakaran jangan sampai terjadi lagi. Tetapi antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kalau titik api masih sedikit, harus cepat ditangani karena kalau sudah menyebar akan berbeda ceritanya dan jauh lebih sulit dipadamkan,” ujarnya.

Berawal dari Kelompok Tani Hutan

MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning berawal dari Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dibentuk pada 2021 melalui skema kemitraan konservasi.

Selain membantu perlindungan kawasan, kelompok tersebut juga menjalankan fungsi pengawetan dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.

Nandar menyebut jumlah anggota KTH yang tersebar di sejumlah desa penyangga Gunung Ciremai mencapai 1.076 orang. Jumlah tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

Sebaran anggota yang berada di wilayah Kuningan hingga Majalengka memungkinkan informasi mengenai potensi kebakaran diterima lebih cepat dan koordinasi dilakukan sejak dini.

Namun, peran masyarakat tidak berhenti pada penanganan kebakaran. Warga juga terlibat dalam kegiatan konservasi, termasuk penanaman dan berbagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem kawasan Ciremai.

Sejalan dengan Program KDM

Camat Pasawahan, Asep Dudi Riyadi, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dan Gunung Ciremai.

Menurutnya, keberadaan MPA sangat penting karena pemerintah memiliki keterbatasan untuk menjangkau seluruh kawasan secara cepat ketika terjadi kebakaran.

Ia menilai gerakan masyarakat tersebut sejalan dengan semangat dan arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.

“Kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi. Pemerintah ada keterbatasan, tetapi yang paling utama adalah kepedulian masyarakat sebagai ujung tombak. Tentu peran pemerintah dan swasta juga diperlukan untuk mendukung apa yang sudah dilaksanakan masyarakat,” kata Asep.

Sudah Dua Kali Hadapi Karhutla

Kesiapsiagaan tersebut bukan tanpa alasan. Sepanjang 2026, MPA di Kecamatan Pasawahan tercatat telah dua kali terlibat dalam penanganan kebakaran.

Di antaranya kebakaran di Blok Cirendang pada 16–17 Agustus 2026 serta kejadian kebakaran pada 21 Juli 2026 di wilayah Desa Padabeunghar.

Asep menyebut salah satu kejadian pada Agustus memiliki sejumlah titik api dengan luasan yang diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare.

Kesigapan petugas bersama masyarakat dinilai membantu memutus penyebaran api sehingga kebakaran tidak meluas lebih jauh.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut turut hadir Danramil Kecamatan Pasawahan Kapten CHB Sunardi, S.Sos., Kapolsek Pasawahan IPTU Enang, perwakilan BTNGC, serta sejumlah kepala desa di Kecamatan Pasawahan.

Bagi masyarakat penyangga Ciremai, menjaga hutan bukan semata tugas pemerintah. Kesiapsiagaan warga menjadi benteng pertama untuk mencegah api kecil berubah menjadi bencana besar. (OM)