KUNINGAN ONLINE – Setiap sekolah memiliki keunggulan dan karakteristik masing-masing. Ada sekolah yang unggul dalam bidang akademik, literasi, numerasi, seni budaya, karakter, lingkungan hidup, teknologi hingga kearifan lokal.
Namun, beragam potensi tersebut belum seluruhnya mampu diidentifikasi, didokumentasikan dan dipublikasikan secara sistematis. Kondisi tersebut mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan menghadirkan inovasi PESONA SD (Pengembangan Sekolah Berbasis Potensi dan Citra Sekolah Dasar).
Inovasi tersebut merupakan karya Surya, S.Pd., M.M., Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan.
Tak hanya dikembangkan sebagai inovasi dalam pembinaan sekolah, PESONA SD juga telah memiliki Surat Pencatatan Ciptaan sebagai bentuk pencatatan atas karya tersebut. Surat Pencatatan Ciptaan itu ditandatangani oleh Menteri Hukum melalui Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Dr. Hermansyah Siregar.
Pencatatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap PESONA SD sebagai karya inovatif yang dikembangkan untuk mendukung penguatan potensi, citra dan branding sekolah dasar di Kabupaten Kuningan.
Surya menjelaskan, PESONA SD hadir dengan membawa perubahan paradigma dalam pembinaan sekolah dasar, yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada pemenuhan kekurangan sekolah.
“PESONA SD hadir untuk mengubah paradigma pembinaan sekolah dasar, dari yang sebelumnya lebih berorientasi pada pemenuhan kekurangan menjadi bagaimana kita menggali dan menonjolkan potensi serta keunggulan yang dimiliki masing-masing sekolah,” ujar Surya kepada Kuninganonline.com, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, setiap sekolah memiliki potensi yang berbeda sehingga perlu dipetakan, dikembangkan dan dijadikan sebagai kekuatan sekaligus identitas sekolah.
“Setiap sekolah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Ada yang unggul di bidang akademik, literasi, numerasi, seni budaya, lingkungan, teknologi, karakter maupun kearifan lokal. Potensi-potensi tersebut perlu dipetakan, dikembangkan dan dipublikasikan secara sistematis,” katanya.
Melalui PESONA SD, setiap sekolah didampingi untuk mengidentifikasi potensi unggulan, menentukan branding sekolah, menyusun profil sekolah, membuat video profil hingga mempublikasikan keunggulannya kepada masyarakat.
Branding yang dibangun bukan sekadar slogan maupun identitas visual. Lebih dari itu, branding diharapkan menjadi representasi nyata dari budaya sekolah, program unggulan serta komitmen seluruh warga sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu.
“Branding sekolah bukan sekadar slogan atau identitas visual. Branding harus menjadi representasi nyata dari budaya sekolah, program unggulan dan komitmen seluruh warga sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu,” jelasnya.
Tujuh Tahapan PESONA SD
Dalam pelaksanaannya, PESONA SD memiliki tujuh tahapan terpadu, mulai dari identifikasi potensi sekolah, pemetaan dan analisis potensi unggulan, penetapan branding, penyusunan profil sekolah, pengembangan media publikasi, publikasi branding, hingga monitoring dan evaluasi secara berkala.
Program tersebut dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, komite sekolah serta masyarakat.
Pelaksanaan PESONA SD mengedepankan prinsip partisipatif, objektif, transparan, akuntabel dan berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi bagian penting dalam program tersebut. Video profil, media sosial dan portal sekolah dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas publikasi mengenai potensi dan keunggulan sekolah.
“Melalui PESONA SD, kami ingin masyarakat mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai keunggulan masing-masing sekolah. Karena itu, pemanfaatan media digital seperti video profil, media sosial dan portal sekolah menjadi bagian penting dalam program ini,” tuturnya.
Tingkatkan Citra dan Kepercayaan Masyarakat
PESONA SD diharapkan memberikan dampak terhadap peningkatan citra positif sekolah, kepercayaan masyarakat serta daya saing sekolah.
Selain itu, potensi dan prestasi sekolah dapat terdokumentasi dengan lebih baik. Pembinaan juga diharapkan menjadi lebih terarah karena berbasis data, sementara kolaborasi antarpemangku kepentingan semakin kuat.
Bagi masyarakat, publikasi mengenai keunggulan sekolah dapat menjadi sumber informasi dalam menentukan pilihan layanan pendidikan.
Sementara bagi sekolah, pemanfaatan media digital memberikan ruang publikasi yang lebih luas sehingga potensi dan program unggulan dapat dikenal masyarakat tanpa membutuhkan biaya besar.
Surya menegaskan, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan PESONA SD. Program tersebut tidak hanya berhenti pada penetapan branding sekolah, tetapi harus terus dikembangkan melalui berbagai program unggulan dan inovasi.
“Keberlanjutan program ini menjadi perhatian kami. PESONA SD tidak berhenti pada penetapan branding, tetapi harus terus diperkuat melalui program unggulan, inovasi, publikasi, pendampingan dan monitoring secara berkala,” pungkasnya.
Keberlanjutan program didukung melalui Petunjuk Teknis, instrumen baku, pendampingan pengawas serta monitoring rutin.
Ke depan, PESONA SD juga diarahkan untuk dikembangkan menuju portal digital terpadu serta pemberian apresiasi bagi sekolah-sekolah terbaik dalam mengembangkan potensi dan citra sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, branding sekolah diharapkan tidak berhenti sebagai identitas, tetapi berkembang menjadi budaya positif yang diperkuat melalui program unggulan, inovasi dan publikasi.
PESONA SD juga sejalan dengan Renstra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan Tahun 2025–2029, khususnya dalam upaya mewujudkan layanan pendidikan dasar yang berkualitas, berkarakter dan berdaya saing.
Melalui PESONA SD, setiap sekolah diharapkan mampu menunjukkan keunikannya, mengembangkan potensi yang dimiliki, serta membangun citra positif secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, sekolah tidak hanya dikenal karena keberadaannya, tetapi karena potensi, prestasi, karakter dan keunggulan yang benar-benar dimilikinya. (OM)







