Ancaman Kemarau Panjang, Paguyuban Silihwangi Majakuning Perkuat Mitigasi Karhutla di Gunung Ciremai

Sosial120 views

KUNINGAN ONLINE – Potensi musim kemarau ekstrem yang diprediksi BMKG menjadi perhatian serius kelompok masyarakat desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning.

Mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), warga bergerak lebih awal dengan memperkuat sistem mitigasi di kawasan Gunung Ciremai. Pengurus paguyuban aktif mendatangi sejumlah KTH di Majalengka dan Kuningan untuk menggelar sosialisasi pencegahan dini kebakaran, patroli rutin bersama Balai TNGC, hingga memberikan bantuan peralatan pemadam api berupa Jet Shooter.

Iklan

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar, mengatakan sedikitnya ada 28 KTH di Majalengka dan Kuningan yang terlibat dalam gerakan pencegahan karhutla tersebut.

“Ada sekitar 28 KTH di Majalengka dan Kuningan yang akan mengikuti kegiatan pencegahan karhutla ini. Meliputi sosialisasi kesiapan, turut serta patroli rutin bersama BTNGC dan meningkatkan koordinasi, hingga pemeliharaan sekat bakar,” jelas Nandar di sela kunjungan ke salah satu KTH di Kuningan, Kamis (24/4/2026).

Iklan

Sebelumnya, jajaran pengurus telah melaksanakan kegiatan serupa di kawasan Buper Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kegiatan difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan lapangan, peningkatan kapasitas personel KTH, hingga penyerahan bantuan Jet Shooter atau pompa punggung untuk mempercepat penanganan awal saat muncul titik api.

Prakiraan BMKG terkait potensi kemarau ekstrem 2026 akibat fenomena yang disebut “Godzilla El Nino” memunculkan kekhawatiran serius terhadap ancaman kekeringan panjang dan meningkatnya risiko kebakaran di kawasan konservasi TNGC.

Situasi tersebut dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis Gunung Ciremai sebagai daerah tangkapan air sekaligus penyangga kehidupan masyarakat lintas wilayah di Kabupaten Kuningan dan Majalengka.

Menurut Nandar, mitigasi tidak bisa dilakukan secara reaktif saat api sudah membesar. Persiapan harus dilakukan sejak dini melalui penguatan koordinasi antar-KTH, kesiapan sarana pemadaman awal, serta patroli rutin di titik-titik rawan kebakaran.

“Mitigasi harus dimulai dari sekarang. Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Kesiapan personel, alat, dan koordinasi menjadi kunci agar penyebaran api bisa ditekan sejak awal,” tegasnya.

Ia menilai keberadaan KTH sebagai warga yang tinggal berbatasan langsung dengan kawasan hutan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan penjaga kelestarian hutan. Karena itu, solidaritas antar kelompok menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau panjang.

“Kalau sewaktu-waktu terjadi kebakaran, seluruh KTH harus saling membantu dan bergerak cepat. Kekompakan di lapangan akan menentukan cepat atau lambatnya penanganan,” ujarnya.

Koordinator Lapangan Paguyuban Silihwangi Majakuning, Jumanta, menambahkan kawasan sekitar Cikaracak di wilayah Argapura termasuk area dengan tingkat kerawanan cukup tinggi saat musim kemarau tiba.

Kondisi vegetasi yang kering ditambah tiupan angin di kawasan lereng gunung berpotensi mempercepat penyebaran api apabila tidak dilakukan penanganan awal secara cepat.

“Pengawasan wilayah rawan harus diperketat. Penanganan awal tidak boleh terlambat karena api di kawasan hutan bisa cepat meluas,” katanya.

Selain ancaman karhutla, paguyuban juga menyoroti potensi kerusakan kawasan akibat aktivitas perburuan liar. Mereka menilai edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan hutan harus terus diperkuat agar warga ikut aktif menjaga ekosistem dan segera melapor kepada BTNGC apabila menemukan aktivitas mencurigakan.

Kegiatan di Majalengka tersebut dihadiri jajaran KTH Waluya Bagja, KTH Ciremai Indah, KTH Bukit Cikaracak, KTH Caladi Sakti, dan KTH Cangehgar. Seluruh anggota paguyuban sepakat memperkuat patroli kawasan serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. (OM)