KUNINGAN ONLINE – Kabupaten Kuningan tengah menyiapkan konsep baru dalam pengembangan sport tourism melalui gelaran Kuningan Angklung Run September 2026. Event ini tidak sekadar menghadirkan olahraga lari, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya lokal dengan menjadikan angklung sebagai identitas utama di sepanjang lintasan.
Mengusung tema “Mentransformasi Warisan Budaya Menjadi Episentrum Sport-Tourism Jawa Barat”, Kuningan Angklung Run dirancang sebagai ruang promosi budaya sekaligus upaya mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Konsep yang disiapkan terbilang berbeda dari event lari pada umumnya. Setiap kilometer lintasan nantinya akan dihidupkan dengan pertunjukan angklung secara interaktif. Masyarakat desa juga akan dilibatkan sebagai pelaku utama pertunjukan budaya.
Tak hanya itu, medali finisher dirancang menggunakan bambu hasil karya pengrajin lokal. Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada seniman, pengrajin, pelaku UMKM, serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Event Organizer (EO) Kuningan Angklung Run, Linda Kartika Dewi, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga ingin memberikan pengalaman budaya yang berkesan bagi para peserta.
“Kuningan Angklung Run bukan hanya tentang siapa yang tercepat mencapai garis finis. Kami ingin setiap peserta merasakan perjalanan budaya Kuningan melalui alunan angklung, keramahan masyarakat, hingga karya-karya pengrajin lokal. Ini adalah bentuk kolaborasi antara olahraga, budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Linda kepada Kuninganonline.com, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, Kuningan memiliki potensi alam dan budaya yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata. Karena itu, Kuningan Angklung Run diharapkan mampu mengubah citra Kuningan dari sekadar daerah transit menjadi salah satu destinasi utama sport tourism berbasis budaya.
“Melalui Kuningan Angklung Run, kami ingin mengubah citra daerah dari sekadar destinasi transit menjadi destinasi wisata utama berbasis sport tourism. Inovasi kinetik budaya ini juga diciptakan sebagai panggung komersial berskala nasional bagi para pengrajin serta seniman lokal, sekaligus mendorong gaya hidup sehat bagi masyarakat,” jelasnya.
Linda berharap Kuningan Angklung Run dapat menjadi agenda tahunan yang semakin berkembang dan mampu mengangkat nama Kabupaten Kuningan di tingkat nasional.
“Harapan kami, Kuningan Angklung Run menjadi ikon baru Kabupaten Kuningan. Ketika orang mendengar Kuningan, mereka tidak hanya mengingat keindahan alamnya, tetapi juga pengalaman berlari yang dipadukan dengan kekayaan budaya Sunda. Dengan begitu, manfaat ekonomi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (OM)





