Dinamika Ketua Gerindra Kuningan Memanas, Dede Ismail Singgung Ambisi Jabatan

Politik, Sosial74 views

KUNINGAN ONLINE – Dinamika penentuan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Kuningan kian menjadi sorotan. Mantan Ketua DPC Gerindra Kuningan, Dede Ismail, S.I.P., menyampaikan kritik terhadap pernyataan Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, yang juga merupakan kader Gerindra, terkait pengabdiannya hingga 2029 di tengah proses penentuan kepemimpinan partai.

Pernyataan tersebut disampaikan Dede dalam konferensi pers yang didampingi jajaran Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kuningan di ruang Fraksi Gerindra, Rabu (14/10/2026).

Iklan

Dede menilai, dinamika penentuan Ketua DPC seharusnya disikapi dengan bijaksana. Menurutnya, kader partai tidak semestinya menjadikan jabatan sebagai tolok ukur utama dalam menjalankan pengabdian, terlebih ketika keputusan akhir berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Ia menyoroti pemberitaan salah satu media yang mengaitkan pernyataan Tuti mengenai masa pengabdiannya hingga 2029 dengan kemungkinan tidak mendapatkan mandat sebagai Ketua DPC Gerindra Kuningan.

Iklan

“Kalau sekarang (Wabup Tuti) sudah mendapatkan kue, harusnya lebih arif dan bijaksana. Jangan mengeluarkan statement kalau tidak mendapatkan mandat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra,” singgung Dede.

Menurutnya, setiap kader harus memiliki kesiapan untuk menerima keputusan organisasi, termasuk ketika mandat kepemimpinan diberikan kepada orang lain. Baginya, pengabdian kepada partai tidak boleh bergantung pada jabatan yang diperoleh.

Dede Sebut Peluang Ketua DPC Ada di Tangan DPP

Dede juga menanggapi pandangan pengamat politik Mang Ewo yang mengaitkan kemungkinan Tuti menjadi Ketua DPC Gerindra dengan peluang politik pada Pilkada mendatang.

Ia menilai, menghubungkan posisi Ketua DPC dengan peluang kontestasi politik berikutnya masih terlalu dini. Menurutnya, dinamika politik dapat berubah sewaktu-waktu, sementara penentuan pimpinan partai tetap menjadi kewenangan DPP.

“Kalau menurut pandangan saya, itu hanya imajinasi, daya khayal yang berlebihan,” tegasnya.

Dede menambahkan, seluruh kader memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan mengembangkan karier politik. Namun, aspirasi tersebut harus tetap berjalan sesuai mekanisme organisasi dan tidak mendahului keputusan pimpinan pusat.

“Semua punya peluang. Bisa karena terbiasa dan bisa karena ada kesempatan. Kalau orang tidak dikasih kesempatan, ya tidak akan bisa,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar proses penentuan Ketua DPC tidak mengabaikan perjuangan kader yang selama ini membesarkan Gerindra di Kabupaten Kuningan.

Menurut Dede, enam anggota Fraksi Gerindra DPRD Kuningan memiliki rekam perjuangan masing-masing. Dalam Pemilu 2024, mereka tidak hanya berjuang memperoleh kursi legislatif, tetapi juga turut memperjuangkan kemenangan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden.

16 Tahun Mengabdi, Dede Tegaskan Mundur Terhormat

Dalam kesempatan tersebut, Dede turut menceritakan perjalanan panjangnya membesarkan Partai Gerindra di Kabupaten Kuningan. Ia mengaku turut merintis partai sejak deklarasi di Cibubur pada 2008, ketika membangun jaringan kader dan struktur organisasi hingga tingkat bawah bukan perkara mudah.

Selama kurang lebih 16 tahun, Dede mengaku mengabdikan diri untuk memimpin Gerindra Kuningan. Namun, setelah dinamika politik pada Pemilu 2024, ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPC.

Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk evaluasi sekaligus tanggung jawab politik. Menurutnya, seorang kader harus mampu menerima kenyataan dan bersikap dewasa ketika hasil perjuangan tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan.

“Saya mundur diri secara terhormat, tidak gila jabatan,” katanya.

Dede menegaskan, kecintaan terhadap partai tidak semestinya diukur berdasarkan tinggi atau rendahnya jabatan yang diberikan. Kader harus siap ditempatkan di posisi mana pun sesuai kebutuhan dan mandat organisasi.

“Mau ditaruh jadi kopral, guru pernah jadi jenderal di lapangan, ya biasa saja. Karena cinta saya terhadap Partai Gerindra yang saya berikan 16 tahun,” tuturnya.

Baginya, pengabdian politik tidak selalu harus berujung pada jabatan Ketua DPC, kepala daerah, maupun anggota legislatif. Selama memiliki komitmen untuk berjuang, seorang kader tetap dapat memberikan kontribusi dari posisi mana pun.

Kepemimpinan Gerindra Kuningan Tunggu Keputusan DPP

Dede kemudian meluruskan mekanisme penentuan Ketua DPC Gerindra. Ia menegaskan, keputusan mengenai figur yang akan memimpin partai berada di tangan DPP melalui mekanisme organisasi, bukan semata-mata ditentukan oleh persaingan antarkandidat.

Ia menyebut namanya masih tercatat dalam agenda kepengurusan DPP sebagai Ketua DPC Gerindra Kuningan. Sementara itu, secara faktual, kepemimpinan partai di tingkat kabupaten dijalankan oleh pelaksana tugas (Plt), yakni Toto Tohari, menyusul usulan dari tingkat pimpinan daerah.

Meski demikian, Dede menyatakan siap menerima apa pun keputusan yang nantinya ditetapkan DPP, termasuk apabila mandat kepemimpinan diberikan kepada figur lain.

“Setiap pejuang politik Partai Gerindra harus siap menerima mandat. Mau dia siap atau tidak, wajib hukumnya harus siap untuk melaksanakan mandat dari DPP,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap kader yang memiliki aspirasi politik, termasuk keinginan maju dalam Pilkada mendatang, tetap memiliki peluang. Namun, aspirasi tersebut harus disertai kesabaran dan kepatuhan terhadap keputusan organisasi.

Ajak Kader Jaga Kekompakan

Menutup keterangannya, Dede mengajak seluruh kader Gerindra di Kabupaten Kuningan untuk menjaga kekompakan dan menghindari pernyataan yang berpotensi memicu kegaduhan internal.

Ia menekankan pentingnya peran kader di tingkat akar rumput, mulai dari Pengurus Anak Cabang (PAC) hingga ranting, yang selama ini ikut membesarkan partai tanpa selalu mengharapkan jabatan strategis.

Menurutnya, siapa pun yang nantinya ditunjuk sebagai Ketua DPC Gerindra Kuningan harus mendapatkan dukungan dari seluruh kader demi menjaga soliditas organisasi.

“Saya mengajak seluruh kader Gerindra, ayo kita kompak dulu. Siapa pun nanti yang ditunjuk sebagai Ketua DPC, kita harus loyalitas tanpa batas dan patuh terhadap organisasi,” tandasnya.

Dede berharap proses penentuan kepemimpinan Gerindra Kuningan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan internal partai. Ia menegaskan, ambisi politik merupakan hal yang wajar, tetapi harus diimbangi dengan kebijaksanaan, keikhlasan, dan kesiapan menerima keputusan DPP.

Kecintaan terhadap partai, menurut mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kuningan tersebut, semestinya tidak berhenti hanya karena seseorang tidak mendapatkan jabatan yang diinginkan. (OM)