Sejarah Desa Garawangi

Opini2,058 views

KUNINGAN ONLINE – Desa Garawangi merupakan desa yang menjadi pusat kecamatan Garawangi, memiliki wilayah strategis dan luas memungkinkan kita semua untuk menemukan fasilitas yang mempermudah untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

Dalam sejarah disebutkan, Desa Garawangi berdiri sejak 1874 M, awalnya mempunyai wilayah kerja mencapai 700 ha karena sebelumnya bersatu dengan desa Mancagar dan desa Karamatwangi. Namun, pada pada Oktober 1945 terjadi pemekaran wilayah sehingga berdirilah Mancagar dan untuk desa Karamatwangi, pemekaran terjadi pada tahun 1983.

Iklan
Iklan

Desa Garawangi sebelum terbentuk disebutnya pedukuhan, yakni pengganti istilah pademangan pada jaman kerajaan atau kesultanan. Dahulunya merupakan bagian dari wilayah Keadipatian Ewangga atau kita kenal wilayah kerja Dipati Ewangga yang sekarang Kabupaten Kuningan.

Secara harfiah Garawangi berasal dari kata ‘Gara’ yang artinya gunung atau hutan dan ‘Wangi’ berarti harum (Gunung yang Harum). Gunung yang dimaksud adalah Gunung Tiga yang terletak di wilayah Desa Garawangi sebelah selatan Sungai Cisanggarung.

Iklan

Garawangi mempunyai tanda atau rambu serta leluhur yang ada di desa Pinara (Kecamatan Ciniru). Di Pinara ada sebuah gunung disebut Gunung Garawangi, sebutan tersebut karena pepohonan yang ada di gunung tersebut condong dan mengarah ke Garawangi, kabarnya bahwa perencanaan pembangunan dipusatkan di Gunung tersebut.

Hal ini dikuatkan dengan keterangan bahwa dimakamkan pula tokoh tokoh diantarnya Pangeran Gajah Parada, pangeran Puralangun, Kyai Mansur dan Kyai Haerudin yang ketika itu masih jaman pademangan yakni wilayah kerajaan dikepalai demang yang diperkirakan pada tahun 1750.

Pada 1867, mulailah Pemerintah setingkat desa atau penduduk dijalankan untuk pemilihan kuwu. Pada saat itu disebut dengan sorodan pada zaman Sorodan yang berarti pemilihan duduk secara berkelompok, tapi saling tarik fisik untuk meraih kerumunan/kelompok yang lebih banyak sebab pemenang dari pilihan tersebut adalah kelompok yang menjagokan kuwunya.

Dari kebanyakn cerita menjelaskan daun kawung (daun enau) yang digunakan untuk merokok digunakan juga kampanye untuk meraih capaian masa pemilihan kuwu. Jika diamati, sebutan kuwu menjadi kepala desa dimulai dari tahun 1968.

Proses pembangunan di desa Garawangi berkaitan dengan sejarah di daerah lain. Sebut saja Pangeran Diponogoro yang diasingkan ke Menado bersama Eyang Hasan Maulani (Eyang Menado) sebagai tokoh islam dari desa Lengkong.

Sebagaimana kita kenal pembuat saluran Bantarwangi yang dimotori oleh Eyang Sindukaria adalah rangkaian pembangunan untuk pengadaan air (Pembangunan Saluran Bantarwangi) ke Pesantren Bilisuk (sekarang disebut Sukamulya) yang didalamnya termasuk upaya kemakmuran bagi masyarakat di wilayah desa Garawangi.

Tanda-tanda kepemerintahan pada jaman kerajaan bisa dilihat dari situs-situs yang tersebar diblok Garawangi termasuk pemakaman tokoh-tokoh zaman tersebut diantaranya, Dalem Siti Nyi Mas Siti Gandawangi, Nyi Mas Siti Gandasari, Embah Gencar, Embah Baladewa, Eyang Gandakusumah, Embah Padang.

Adapun tokoh-tokoh pemeran sejarah yang sering kita dengar sebagai Eyang, Buyut, Pangeran, Embah dan sebutan lain merupakan sebutan terhormat bagi para tokoh diantaranya Baladewa, Dalam Siti, Gandawangi, Gandasari, Gencar, Maranggi, Sarinem, Dukun, Ranggong, Tumenggung, Padang, Saribah, Dako dan yang lainnya tidak dapat disebutkan karena ketokohannya merupakan tokoh antar generasi. (Ida/mgg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *