Politisi PDIP Rana Suparman : Kuningan Persawahan Masih Luas, Tapi Tata Ruang Belum Ada

Politik, Sosial653 views

KUNINGAN ONLINE – Kabupaten Kuningan memiliki kawasan persawahan yang masih luas, namun kawasan tersebut perlu adanya sebuah komitmen bersama bahwa lahan-lahan sawah perlu dijaga.

“Kita harus sudah menjadi negara yang kuat dalam pangan dan salah satu penopangnya adalah Kuningan yang notabene kawasan persawahannya masih luas, asal ada komitmen bahwa lahan-lahan sawah kita dijaga,” ujar Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan, Rana Suparman, Rabu (15/3/2023).

Iklan

Ia mengatakan, seharusnya Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dapat diwujudkan dengan baik dan benar. Kemudian, fasilitas air juga harus benar-benar terpetakan dengan baik.

“Kita harus punya tata ruang pertanian yang lebih jelas mana kawasan padi 3 musim, mana kawasan padi 2 musim mana kawasan padi satu musim, mana kawasan yang tandah hujan, mana kawasan yang tidak tandah hujan juga untuk lahan seperti buah-buahan. Hal Itu sudah harus benar-benar terpetakan tata ruang di Kuningan,” kata Rana.

Iklan

Ia menceritakan, ketika dirinya di Komisi II DPRD itu sudah menyampaikan ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, terus Dinas Peternakan dan Perikanan bahwa tata ruang itu harus benar-benar terbangu secara terintegrasi
dengan jelas.

“Waktu itu saya sudah sampaikan ke dinas tersebut. Harus ada databasenya yang kuat tidak boleh di kira-kira dan harus terarsipkan secara data,” ujar Rana.

Disinggung LP2B ini belum berjalan efektif di Kuningan, Rana menyebut sampai hari ini seharusnya ada laporan tahunan.

“Apakah lahan ada yang bertambah atau menyusut. Sejauh ini lahan pertanian di Kuningan menyusut, malah saya dapat laporan dari temen-temen. Bukan dari dinas terkait,” sebutnya.

“Ketika saya bertanya kepada kepala desa yang dekat dengan kita, pak kuwu tahun 2021 berapa kawasan sawah yang jadi rumah, berapa kawasan yang jadi ladang. Nah di 2022 juga saya sama menanyakan dan menyampaikan,” tambahnya.

Sementara, di tahun 2023 ini juga, pihaknya menanyakan kembali kepada kepala Desa. Berapa tanah yang menjadi rumah, jumlah sawah menjadi kebun, dan rata-rata selalu ada kejadian sawah jadi rumah.

“Iya rata-rata dari tiap tahun ada alih fungsi lahan menjadi pemukiman, kebun jadi pemukiman. Karena masyarakat butuh untuk pemukiman, tapi kalau untuk industri mari kita pikirkan dulu. Bukan anti industri, mari kita tempatkan industri di kawasan-kawasan tertentu yang juga tidak mengganggu eksistensi pertanian kita, dan eksistensi pangan,” pungkasnya. (Jahid)