Jalankan Proker HKTI Saba Desa, Petani Didorong Buat Pupuk Organik Sendiri

Informasi, Sosial278 views

KUNINGAN ONLINE – Dalam menjalankan Program kerja Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kuningan turut hadir untuk membantu kesulitan para petani di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Salah satunya, adalah program HKTI Saba Desa, yang digagas Ketua DPC HKTI Kuningan, Hanyen Tenggono bersama jajaran pengurus DPC HKTI.

Iklan

Pada dua pekan ini, sejumlah lokasi pertanian dikunjungi para pengurus DPC HKTI Kuningan untuk mensosialisasikan solusi alternatif bagi para petani dalam menghadapi masalah kelangkaan pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk kimia non subsidi.

“Melalui program HKTI Saba Desa ini diharapkan para petani bisa segera memanfaatkan musim tanam kali ini untuk beralih ke pertanian organik dengan membuat alternatif pupuk organik sendiri,” terang Hanyen Tenggono, saat dikonfirmasi Kamis (11/1/2024).

Iklan

Dengan membuat pupuk organik sendiri, diharapkannya, para petani tidak bergantung pada pupuk kimia yang saat ini langka dan mahal harganya.

“Pupuk organik cair buatan HKTI Kuningan sudah dibuktikan di Demplot kita yang berada di area Sangga Langit, menghasilkan tanaman dengan hasil panen yang bagus,” harapnya.

Terpisah, pengurus HKTI Kuningan, Sulistio, yang ditunjuk sebagai narasumber pada setiap sosialisasi kepada para petani ini, menyebutkan keunggulan pupuk organik cair buatan sendiri, dengan racikan yang disarankan HKTI Kuningan.

“Selain menumbuhkan tanaman pertanian yang bagus, pupuk organik cair ini bisa mengembalikan kesuburan dan unsur hara tanah,” sebutnya.

Sebenarnya, Tio menerangkan, pupuk organik sejatinya berasal dari tanaman yang ada di atas lahan pertanian itu sendiri. Seperti di sawah, pupuk organik itu adalah dari tanaman padi yang ada di atasnya.

“Tanaman menghasilkan unsur hara untuk membuat tanah subur. Unsur hara ini hilang akibat pemakaian pupuk kimia dalam waktu lama,” terangnya.

Permasalahan pertanian saat ini adalah mahalnya pupuk non subsidi dan langkanya pupuk bersubsidi. Ia mengatakan, Kenapa bisa mahal? Karena penyuplai bahan untuk pupuk kimia tersebut, yakni negara Rusia dan Ukraina saat ini sedang dalam peperangan.

“Maka HKTI hadir untuk mengajak masyarakat petani di Kabupaten Kuningan mencoba menawarkan teknologi alternatif untuk mengatasi masalah pupuk ini, namanya bio-teknologi,” kata Tio.

Program HKTI Kuningan Saba Desa ini mendapat sambutan bagus dari para petani di Kabupaten Kuningan yang berhasil ditemui.

“Mereka berterima kasih, karena di tengah kesulitan para petani saat ini, HKTI Kuningan hadir memberikan inspirasi dan dukungan agar para petani bisa bangkit lagi untuk tetap memaksimalkan lahan pertaniannya dengan menanam. (OM)