Desa Tarikolot Pancalang, Penghasil Sapu dan Alat Kebersihan

Informasi522 views

KUNINGAN ONLINE – Desa Tarikolot Kecamatan Pancalang, merupakan desa penghasil kerajinan Sapu dan alat kebersihan lainnya. Akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, membuat roda ekonomi lingkungan keluarga yang sedikit demi sedikit lumpuh.

“Ya sewaktu ada aturan ketat tidak boleh keluar kota, kami tidak produksi sama sekali,” ungkap Duli (60) salah seorang pengrajin sapu tutus, saat ditemui di halaman rumahnya, kemarin.

Iklan

Dia menceritakan pengalamannya yang sempat lumpuh usaha digelutinya. Hal ini susah di lupakan dan menjadi catatan kehidupannya.

“Iya bayangkan saja, kami harus bertahan untuk memenuhui hajat hidup dengan sebisa-bisa dan seadanya. Karena tak produksi itu tidak ada kiriman bahan baku untuk buat sapu tutus,” katanya.

Iklan

Meski belum kembali normal dalam produksi sapu tutus, Duli mengatakan, usaha seperti ini sudah mendarahdagung dan ditekuni sejak masa bujang.

“Saya usaha begini sudah puluhan tahunan, dan untuk sekarang jumlah produksi rata rata sebanyak 50 buah,” kata Duli.

Pembuatan sapu tutus yang di dominasi berbahan baku bambu, diterangkan Duli, penjualannya
dicukup untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga.

“Dan untuk harga jual sapu tutus, satunya seharga Rp 1600 hingga Rp 2000,” kata Duli seraya mengaku bahwa untuk pembuatan sapu tutus, bambu digunakan itu jenis bambu bitung.

Pantauan di lokasi, ibu rumah tangga terlihat asyik dalam membuat sapu tutus.

“Pembuatanya memang beberapa tahap dilakukan. Mulai pemotongan bambu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan mulai menyusun serta mengikatnya dengan tali dari kain,” katanya.

Ditanya soal wilayah pemasaran, kata dia, sapu tutus yang dihasilkan Duli dan keluarganya. Bisa terjual hingga luar daerah.

“Penjualannya itu bisa ke daerah Jawa dan sejumlah kota lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Hamim (35) warga setempat, lebih memilih pembuatan kemoceng dan alat pembersih botol.

“Bahan yang digunakan itu dari limbah dan ini senar halus,” kata Hamim.

Untuk setiap hari, kata hamim, jumlah yang di hasilkan sebanyak 300 buah.

“Iya, jumlah pembuatan kemoceng seperti ini, masih sedikit dan menyesuaikan dengan modal yang dikeluarkan,” katanya.

Mengenai pemasaran, kata Hamim, penjualan melalui pengisian terhadap pedangan di sejumlah pasar dan toko peralatan rumah tangga.

“Iya, hasil pembuatan kemoceng, kami isi ke sejumlah pedagang di daerah Brebes dan kota daerah lainnya,” pungkasnya. (OM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *